You are here: Home - Blog - Cepat sembuh Nyak Nek

Cepat sembuh Nyak Nek

Posted by on October 7th, 2011 with 1 Comment

Suasana malam telah berganti menjadi pagi yang membawa hawa sejuk sampai menusuk tulangku. Dari semalam aku tidak bisa tidur setelah mendapat kabar dari ibu di kampung melalui SMS bahwa Nyak Nek sedang dalam kondisi sakit. Aku baru membaca pesan tersebut pada sore hari, padahal SMS tersebut telah dikirimkan oleh ibu sejak siang hari tadi. Saat itu juga, aku langsung menghubungi ibu di kampung namun tidak ada seorang pun yang mengangkat telepon di rumah. Akhirnya, aku berinisiatif untuk menghubungi Nyak Wa yang kebetulan letak rumah beliau bersebelahan dengan rumah ibuku.

Tidak lama kemudian, Nyak Wa pun mengangkat telepon dan langsung menceritakan mengenai kondisi Nyak Nek yang sedang sakit dan terbaring di tempat tidur. Sungguh, aku merasa kasihan kepada Nyak Nek dengan kondisi yang sangat lemah terbaring dan tidak kuasa untuk makan. Nyak Wa menjelaskan bahwa kondisi Nyak Nek sakit seperti ini telah berlangsung selama beberapa hari, bahkan sempat menjalani infus untuk membantu proses penyembuhan. Kondisi yang lemah membuat Nyak Nek tidak sanggup untuk menelan setiap makanan yang masuk ke dalam mulut. Nyak Wa juga menambahkan bahwa hari ini Nyak Nek telah mampu makan walau hanya sesuap nasi. Sungguh, cerita Nyak Wa membuat aku ingin langsung pulang ke Aceh untuk melihat dan bertemu langsung dengan Nyak Nek.

Akhirnya, percakapanku dengan Nyak Wa harus disudahi karena di seputaran Jalan Kaliurang telah terdengar suara adzan yang menandakan telah tiba waktu shalat Magrib untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Sebelum aku menyudahi pembicaraanku dengan Nyak Wa, aku memohon kepada Nyak Wa untuk menyampaikan pesanku kepada ibu, bahwa  setelah shalat Isya aku akan menghubungi ibu melalui telepon. Aku ingin menanyakan tentang keadaan Nyak Nek lebih jauh kepada ibu yang dominannya tinggal serumah dengan Nyak Nek.

Berselang beberapa jam setalah shalat Magrib dan juga shalat Isya, aku menghubungi ibu di kampung dan langsung menanyakan kabar terbaru mengenai kesehatan Nyak Nek. Ibu menjelaskan hal yang senada dengan Nyak Wa tadi sore, bahwa kondisi kesehatan Nyak Nek sedang drop. Dari hasil pemeriksaan dokter, Nyak Nek mengalami penyakit jantung ringan dengan tensi darah yang cukup tinggi. Sontak membuatku kaget karena sepengetahuanku selama ini, Nyak Nek tidak pernah mengalami penyakit jantung dan tiba-tiba hasil diagnosa dokter menyatakan bahwa Nyak Nek mengalami penyakit jantung ringan.

Di satu sisi aku merasa bersyukur karena Nyak Nek hanya mengalami penyakit jantung ringan, namun di sisi lainnya yang membuat aku begitu khawatir dengan tensi darah beliau yang cukup tinggi. Ini membuat aku khawatir, karena Nyak Nek memang sering mengalami pusing bahkan tidak sanggup bangun jika tensi darahnya menunjukkan angka yang cukup tinggi. Jika sedang mengalami kondisi seperti itu, jangankan untuk berjalan, untuk shalat saja Nyak Nek hanya mampu duduk saja. Namun, untuk kali ini kondisi Nyak Nek lebih mengkhawatirkan karena beliau sudah tidak sanggup untuk duduk. Beliau hanya mampu berbaring untuk melaksanakan shalat 5 waktu, sehingga hal ini benar-benar membuat hatiku merasa sedih sekali.

Perasaan sedih hatiku menjadi-jadi setelah mendengar suara Nyak Nek via telepon, “Allahhurabbi” suara beliau begitu lemah sekali. Jujur, selama ini aku tidak pernah mendengar suara Nyak Nek selemah ini seperti orang yang tidak bertenanga untuk berbicara. Suara beliau terdengar serak dan tidak begitu jelas mengucapkan kata-kata. Hatiku benar-benar teriris mendengar suara beliau seperti itu, sampai tak kuasa mataku mulai berkaca-kaca. Sungguh di luar dugaan, ternyata sakit Nyak Nek kali ini benar-benar membuatku begitu khawatir sampai aku meminta izin kepada ibu untuk segera pulang ke Aceh. Namun, niatku tersebut dilarang oleh ibu mengingat jadwal sidang tesisku akan segera dilaksanakan dalam waktu beberapa minggu ke depan. Ibu menyarankan agar aku tetap bertahan di Yogyakarta sampai sidang tesisku benar-benar selesai dilaksanakan.

Aku hanya bisa menurut dan patuh dengan saran Ibu, walaupun hati ini berkata lain yaitu ingin segera kembali ke Aceh untuk mendampingi Nyak Nek di saat-saat seperti ini. Ingin rasanya aku berada di sisi Nyak Nek, menemani beliau ngobrol walau aku tahu bahwa Nyak Nek tidak ada tenaga lagi untuk berbicara dengan kondisi beliau yang sangat lemah seperti saat ini. Aku hanya bisa berdo’a dan memohon kepada Allah SWT untuk memulihkan kesehatan Nyak Nek dan mengembalikan kondisi beliau seperti sediakala. Aku hanya ingin melihat Nyak Nek tersenyum bahagia, bercerita dan berbagi pengalamannya kepada seluruh anak cucunya. Seorang Nyak Nek yang sangat aku hormati dan aku sayangi, telah memberikanku inspirasi untuk bersekolah dan menjalani hidup di rantau orang.

Salam hormat dan sayangku untuk Nyak Nek tercinta di Kutablang. Semoga cepat sembuh…

//Jogja, 7 Oktober 2011

One Comment

  1. [...] Setelah kepergian Nyak Nek, aku akan merindukan setiap nasehat dan juga petuah yang beliau sampaikan di kala kami sedang duduk berdua sambil minum teh. Hanya foto wajah beliau yang selalu ku pandangi dan masih ku simpan di laptop ku saat ini. Yaa… paling tidak dapat sedikit mengobati rasa rinduku pada Nyak Nek Fatimah yang telah kembali ke rahmatullah. Terakhir kali aku melihat wajah Nyak Nek secara langsung, yaitu di saat aku meminta maaf dengan mencium tangan beliau sebelum aku berangkat kembali ke Yogyakarta pada bulan Januari tahun 2011 untuk melanjutkan pendidikan. Namun, suara Nyak Nek masih sempat aku dengarkan beberapa waktu lalu ketika aku menelepon di saat beliau sedang sakit keras. Untuk postingan mengenai kondisi Nyak Nek di saat beliau sedang sakit keras tersebut pernah aku buat tulisan pada halaman¬†ini. [...]

Leave a Reply


six + 8 =